Saturday, July 11, 2009

Benang Tipis itu Bernama Kebebasan

Oleh : Giacinta Hanna

Benang tipis itu melekat erat dalam benak Anisha. Selama ini meskipun tetap ada, benang itu tertutup oleh selaput tebal bernama belenggu. Selaput itu membatasi gerakkannya. Entah apa lagi yang harus dia perbuat agar selaput itu terbuka dengan sendirinya.

Semakin kuat dia berusaha membukanya, selaput itu semakin kencang mengikat. Elastisitasnya sangat berkualitas dan hampir sempurna. Tidaklah heran jika hasilnya mampu bertahan sampai puluhan tahun.

Selaput itu berada disana semenjak Anisha memutuskan untuk merubah kehidupan pribadinya. Keputusan yang sangat ceroboh karena hanya mencari kebahagiaan dan perubahan nasib. Tanpa pikir panjang, dia menerima begitu saja anjuran orang-orang sekitarnya untuk menjalani kehidupan baru, kehidupan berumah tangga.

Penjajakan selama lima bulan terlalu singkat untuk mengenal pribadi seseorang. Meskipun Anisha memiliki kepekaan rasa melebihi orang lain dalam menilai sifat seseorang, namun dia tidak mempu menilai orang yang bakal sangat dekat dihatinya.

Anisha belum siap. Benang tipis itu terlalu cepat tertutup tanpa sempat bernafas dan menunjukkan kekuatannya. Dormansi, ya benang tipis itu mengalami dormansi sebelum sempat diasah, dipupuk dan dibina.

Selaput itu mengandung tuntutan mengenai kesempurnaan dalam menjalani hidup berkeluarga. Anisha harus bertindak “menurut buku”. Makanan harus sehat, rumah harus rapi, pergaulan dibatasi, behubungan harus sesuai jadwal pelajaran, cari penghasilan tambahan? Oh, itu harus! Tapi dahulukan kepentingan keluarga. Hm,…………Anisha merasa layaknya “super woman”. Perfect!

Dalam kepasrahan, Anisha menemukan penangkalnya. Hanya cairan berisi pikiran positif yang mampu mengikis tipis selaput itu. Cairan itu ditambahkan terus menerus dengan penuh kesabaran. Setetes demi setetes hingga benang tipis itu terlihat kembali. Anisha terus berusaha entah sampai kapan.

Friday, June 26, 2009

Magician Area

Oleh : Giacinta Hanna

Tentunya kita tahu mengenai lagu Si Gembala Sapi. Lagu ini menceritakan si gembala yang bekerja menggiring sapi untuk makan di padang rumput. Dan setelah petang, sapi pulang kandang dan si gembala menyenangkan badan. Tidak ada lagi yang dipikirkan.

Siang ini kulajukan kendaraan dengan kecepatan sedang karena jumlah kendaraan di depan Metropolitan Mall tidak terlalu padat. Mendekati lampu merah, aku memperlambat kecepatan mobil. Tiba-tiba teringat akan lagu itu ketika kusaksikan dari arah berlawanan, seseorang yang sedang menggiring motor di lampu merah dengan tongkat ajaibmya. Tongkat yang sewaktu-waktu bisa menyala.

Motor-motor berjejer rapi dibawah kendali, sebelum lampu lalu lintas berubah warna menjadi hijau. Ada sekitar sepuluh motor berada di barisan terdepan. Sungguh mengagumkan ternyata motor-motor bisa jinak jika bersamanya. Seperti kena sihir yang dipancarkan oleh tongkat ajaib. Rapi sekali barisan mereka. Pemandangan yang persis sama seperti di padang rumput dengan penggembala bertongkat panjang beserta ratusan sapi.

Pengendara terlihat disiplin namun siaga melihat perubahan angka merah yang menurun menjadi tiga, dua, satu dan tiba-tiba motor-motor melaju liar dengan kecepatan tinggi seperti ada sesuatu yang mengancam di belakangnya.

Seseorang itu kehilangan kendali, kembali sendiri dan termangu. Mungkin terlintas dalam pikirannya :

"Seandainya motor-motor bisa kuatur seperti di lampu merah, alangkah damainya dunia. "

Ternyata kekuatan sihirnya tidak mampu bekerja lagi ketika lampu lalu lintas berubah menjadi hijau.

Aku tersenyum sendiri sambil melajukan kendaraanku, ketika lampu lalu lintas berubah warna.

Monday, June 1, 2009

Roti Bakar TASTY ku Dibajak Didepan Mata

Oleh : Giacinta Hanna

Saya lihat roti bakar berbentuk segitiga berjumlah empat buah ditata di atas piring keramik berbentuk segi empat mengelilingi kentang goreng.

"Ibu Dewi mau membuat menu baru ?" ujar saya, sangat ingin tahu mengenai kegiatan yang dilakukannya di depan mata.

"Ah, tidak. Saya cuma mau bantu teman yang akan buka cafe disebelah bilyar", ujarnya dengan muka bak kepiting rebus.

Mengapa dia tersipu-sipu bercampur gugup seperti itu? Pasti ada sesuatu yang dia sembunyikan.
Saya penasaran. Saya hampiri lagi roti bakar yang siap dibidik dengan kamera poket.

Eh, iya betul. Ini roti bakar saya. Saya tahu persis dari isinya, penataan, potongan dan tebalnya. Kenapa ya ide saya mau dia foto? untuk keperluan apakah? Rasa terkejut sekaligus emosi berkecambuk dalam hati.

"Bu, itu kan roti bakar saya ya?" Ujar saya meyakinkan diri sendiri.
"Iya, baru tadi saya beli", katanya dengan nada datar.
"Lho, kenapa ibu foto?" kejar saya
"Cuma buat contoh. Temen saya mau buat cafe di lantai bawah sebelah bilyar", katanya lagi.

Ibu Dewi bekerja sebagai akunting di operator Food Court Jungle Paradiso. Namun di waktu luangnya dia juga menympatkan berbisnis jual HP dan sewa satu gerobak untuk menjual makanan kecil seperti kentang goreng, sosis nugget, roti tawar (dibakar atau digoreng??), dll yang terletak satu lantai dengan tempat dia kerja.

Kantornya dikelilingi para tenan yang berjumlah 21 buah. Dia bertugas untuk mengawasi kelancaran jalannya penjualan. Semua data penjualan dia pegang. Juga masalah pembayaran ke masing-masing tenan. Oleh sebab itu dia mengetahui omset yang diterima.

Kesempatan ini digunakan untuk mencari peluang baru. Tidak ada yang salah jika seseorang ingin memperbaiki taraf hidup, meskipun diketahui kondisi ekonomi jauh dari cukup. Namun ada cara yang baik dan tidak baik.

Seharusnya ibu Dewi melindungi dan menjaga rahasia dapur para tenan agar bisnis bosnya bisa tetap berjalan. Namun apa mau dikata? Bujukan uang dan ambisi bisa membutakan tindakan. Dipesannya roti bakar TASTY. Kemudian dia pindahkan dipiring yang lebih besar untuk ditambahkan dengan kentang goreng jualannya. Dan, simsalabim !!! Jadilah komposisi yang baru dengan Roti Bakar ide asli dari TASTY.

Yang saya tidak habis pikir, kenapa dia tega menjiplak hak cipta TASTY, salah satu tenan yang seharusnya dia lindungi? Mengapa tidak ada kesadaran dan tidak menghargai hak-hak seseorang yang mempunyai sebuah karya? Kenalkah dia akan UU No.19 tahun 2002 tentang Hak Cipta ?

Menu-menu yang saya sajikan itu sudah teruji baik rasa maupun kelayakan untuk jual. Pemikiran ini tidak terjadi dengan mudah, memerlukan riset dan kerja keras untuk mendapatkannya. Namun dengan begitu mudahnya dia curi, tanpa ada perasaan bersalah pula. Berani, sungguh berani !

Kecewa, gundah, sedih. Ya, tanpa bisa ditahan perasaan itu muncul begitu saja. Namun tantangan ini semakin memacu untuk bertahan. Kejadian ini menjadi pelajaran berharga bagi saya. Secara tidak langsung dia telah mengajarkan saya untuk melindungi hasil karya sendiri dari pencurian.

Saya sarankan sebaiknya kampanye STOP COPY PASTE diperluas lagi tidak hanya untuk tulisan, tetapi termasuk karya nyata. Mungkin slogan kampanye bisa diganti menjadi " Jangan membeli makanan hasil copy paste ".





Bagaimana Menghadapi Penerbit Modal Copy Paste Ya?
Apr 17, '09 11:30 AM for everyone

Di blog dan milis, sudah sering kita mendengar sekarang lagi trend penerbit modal dengkul yang menerbitkan buku resep dengan cara copy paste dari blog, MP atau milis teman-teman kita.

Mereka makin lama makin berani saja, bahkan ketika ditegur pun kabarnya mereka berani bilang bahwa itu sah-sah saja. Sebab internet katanya adalah 'public domain' - anda boleh akses dan download sesuka anda. Bahkan -ironis-nya- mereka biasanya toh pasang disclaimer di bukunya: dilarang mengutip dan ancaman hukuman denda Rp 1 M atau kurungan.

Benarkah demikian adanya ttg public domain?
Coba simak kutipan yang saya ambil dari sini:

Freely obtained does not mean free to republish.

These factors have reinforced the false notion that "freely obtained" means "public domain." One could argue that the Internet is a publicly available domain, not licensed or controlled by any individual, company, or government; therefore, everything on the Internet is public domain.

This specious argument ignores the fact that licensing rights are not dependent on the means of distribution or consumer acquisition. (If someone gives a person stolen merchandise, it is still stolen, even if the receiving party was not aware of it.) Chasing down copyright violations based on the idea that information is inherently free has become a primary focus of industries whose financial structure is based on their control of the distribution of such media.[36]
(Almost) everything written down is copyrighted.

Another complication is that publishing exclusively on the Internet has become extremely popular. In countries party to the Berne Convention, an author's original works are covered by copyright as soon as the work is put into a "fixed" form; no formal copyright notice or registration is necessary.

But such laws were passed at a time when the focus was on materials that could not be as easily and cheaply reproduced as digital media, nor did they comprehend the ultimate impossibility of determining which set of electronic bits is original.

All Internet postings (including blogs and emails) are copyrighted material unless explicitly stated otherwise.[36]The distribution of many types of Internet postings (particularly Usenetarticles and messages sent to electronic mailing lists) inherently involvesduplication. The act of posting such a work can therefore be taken to imply consent to a certain amount of copying, as dictated by the technical details of the manner of distribution. However, it does not imply total waiver of copyright.[36]

Untuk tujuan yang Non Komersil, mungkin anda boleh pakai dengan menyebutkan sumber-nya, tapi untuk tujuan Komersil, tentu tidak bisa bilang bebas karena itu public domain. Anda yang bergerak di bidang hukum dan konsen masalah ini, coba tolong dipelajari lagi.
Sebab, kalau di Yahoo.Groups, ada klausa di sini:

Kalau ndak sempat baca semua, baca sajah nomor 12:
NO RESALE OF SERVICE - You agree not to reproduce, duplicate, copy, sell, trade, resell or exploit for any commercial purposes, any portion of the Service (including your Yahoo! ID), use of the Service, or access to the Service.

Adakah cara kita menghadapi penerbit colong-colong begitu?
Mestinya ada.

Kita bisa kompak, semua masyarakat blog, MP atau milis, bersama-sama, memboikot mereka untuk jangan beli buku mereka. Kita foto cover buku mereka, buktikan bagian mana yang hasil copy paste. Lalu sebarkan ke milis-milis dan blog-blog teman-teman kita semua, serukan semua teman kita untuk tidak beli buku tsb.

Kalau bisa, kita juga hubungi toko-toko buku, pengecer atau toko-toko lain yang menjual buku hasil bajakan tsb. disertai buktinya, tentu. Supaya mereka tidak menjual buku-buku hasil bajakan tsb. Gunakan koneksi yang ada di antara teman-teman kita ke toko-toko buku tsb.
Kalau ndak ada yang mau beli, mestinya penerbit itu rugi sendiri toh? Biar saja buku-bukunya dijadikan bahan ganjel meja butut mereka tuh!
Bagaimana menurut anda?

Diijikan mengkutip dari Waroeng Ophoeng
http://ophoeng.multiply.com/journal/item/347/Bagaimana_Menghadapi_Penerbit_Modal_Copy_Paste_Ya

Saturday, May 23, 2009

Suara Hati

Oleh : Giacinta Hanna

"Keadaannya kritis sekali, tinggal menunggu mukjizat saja untuk bisa sembuh", jawaban dari sms itu menggetarkan hati Dina.

Dina (25) adalah seorang gadis introvert yang sederhana dan lebih menyukai melakukan kegiatan di rumah. Dia mempunyai kelebihan yaitu bisa mengetahui hal-hal yang akan terjadi melalui mimpi-mimpinya.

Beberapa minggu sebelum menerima sms itu, Dina bermimpi berada diantara banyak orang yang menghadiri suatu acara tertentu. Begitu banyak sanak saudara yang hadir pada saat itu dan semua nampak berbahagia.

Ketika pagi menjelang, Dina mempunyai firasat tidak enak. Dia bertanya-tanya dalam hati.

"Siapakah yang akan meninggal dalam keluargaku?" Ah, Dina menggelengkan kepala berusaha untuk mengabaikan suara hatinya.

Namun setelah menerima sms itu, Dina kembali teringat akan mimpinya.

"Mungkinkah mimpiku menjadi kenyataan?" gumamnya.

Bergegas Dina mengambil buku doa. Dicarinya doa untuk mendampingi orang dalam sakratul maut. Entah dapat energi dari mana, dalam hitungan menit doa itu berhasil diringkas sesuai dengan kondisi yang ada.

Ya Tuhan, terimalah hambaMU, (sebut nama yang sakit) dalam kebahagiaan yang ia harapkan karena belas kasihMu.
Luputkan dia dari segala kemalangan. Bebaskan dari penderitaan, kungkungan penyakit.
Sebab ia menaruh harapannya padaMu,
Yang hidup dan berkuasa
Kini dan sepanjang masa.
Amin

Dina mengirimkan doa melalui sms ke beberapa orang agar didoakan bersama-sama. Dina percaya bahwa kekuatan doa akan berlipat jika dilakukan bersama-sama. Doa diucapkan berulang kali. Dan esok hari, penderitaan si sakit telah sirna.

Suara hati telah menjadi kenyataan.


Wednesday, April 29, 2009

Live is a gift

Today, before you bore with your life, just remember to someone who is faster go to heaven
And when you tire and bore with your work, just remember to jobless, invalid people and someone who want your work.
Before you blame to someone, just remember that nobody life perfectly.
Put a smile at your face and thanksful to Lord because you are still alive and here in this world.
Live is a gift. Do it, enjoy it and celebrate it.
Enjoy every time in your life because it’s can’t be back in the future.

Wednesday, April 22, 2009

Terima kasih, Di !


Oleh : Giacinta Hanna


Didi (20) setiap pukul tujuh pagi mulai bersiap-siap kerja. Diraihnya satu karung plastik besar kosong yang sudah dimodifikasi seperti tas punggung dan besi panjang dengan ujung yang tajam dari gerobak setianya. Tak lupa dipakainya topi berbentuk kerucut untuk melindungi kepalanya dari hujan dan panas.

Dari “tanah merah”, sebuah lapangan bertanah merah tempatnya menetap, dia menelusuri jalan tembus menuju ke perumahan. Dihampirinya bak-bak sampah di setiap rumah. Dikaisnya satu demi satu tumpukan itu untuk mencari plastik-plastik bekas. Pekerjaannya dilakukan dengan tekun sampai sore hari.


Dibalik pakaiannya yang lusuh, Didi dengan tinggi 160 cm tampak tegap dan sehat. Kulitnya kuning langsat dan berwajah polos. Terkadang senyumnya tampak jika ada sesuatu hal yang membuatnya bahagia. Tak ada kesan sedih dalam dirinya karena putus sekolah dan hidup sendiri di perantauan. Semua dia jalani apa adanya agar bisa mendapatkan uang.

Didi adalah anak semata wayang yang berasal dari Purwokerto. Kedua orang tuanya masih menetap disana dan sudah tidak bekerja lagi. Akibat kesulitan ekonomi, ia tidak mampu melanjutkan sekolah dan terpaksa mencari pekerjaan di luar kota

Bukanlah hal yang mudah tanpa bekal ilmu pengetahuan bekerja di kota. Didipun tidak mempunyai kenalan di kota Bekasi, kota yang ditujunya sebagai tempat untuk mencari nafkah. Namun keinginan membantu ekonomi keluarga begitu kuat melekat dibenaknya.

Sambil berjalan perlahan karena letih, Didi bepikir keras. Sampailah ia di tempat penampungan barang-barang bekas dari plastik. Dengan sedikit ragu dihampirinya tempat itu.

“Permisi Pak, darimana barang-barang bekas ini?” ujarnya menanyakan pada seorang pria yang sedang menimbang tumpukan kantong plastik.

“Oh, ini saya beli dari pemulung. Mereka mengirimkannya secara rutin seminggu sekali untuk dijual kesini,” ujar bapak itu ramah.

Dari percakapan itu, Didi menemukan ide untuk mendapatkan uang. Dia akan menjadi pemulung khusus plastik-plastik bekas. Jika plastik-plastik bekas itu sudah terkumpul, dia akan menjualnya di tempat itu.

“Yah, yang penting pekerjaan ini halal, bukannya mencuri,” gumamnya.

Baru satu bulan Didi bekerja sebagai pemulung, namun rejekinya tidak habis-habis. Dalam sehari Didi mampu mengumpulkan 10 – 20 kg plastik. Plastik-plastik itu dijemurnya lagi untuk kemudian dijual seharga Rp. 1400,- per kilonya.
Biasanya ia mengumpulkannya selama satu minggu agar uang yang didapat lebih banyak. Rencananya uang ini nanti akan diberikan kepada kedua orang tua.

Siang itu, seperti biasanya Didi menelusuri bak demi bak. Disalah satu rumah terlihat seorang ibu sedang sibuk mengeluarkan barang-barang bekas. Ada dus, mainan, tas dan plastik. Ibu itu terlihat kebingungan karena baknya tidak cukup untuk menampung semua barang-barang bekas itu.

Mata Didi berbinar-binar dan senyum tampak diwajahnya. Dihampirinya Ibu itu.

“Permisi, Bu. Barang-barang ini sudah tidak dipakai kan? Boleh saya ambil?” ujarnya sopan sambil tersenyum.

“Oh, boleh, boleh. Kebetulan sekali kamu datang. Soalnya bak ini tidak cukup. Masih banyak lagi barang yang akan saya buang.” Kata Ibu itu bersemangat karena merasa terbantu dengan kehadiran Didi.

Didi si anak rantau boleh putus sekolah. Didi boleh saja memiliki pengetahuan terbatas. Didi boleh tidak paham apa itu Global Warming. Didi hanya ingin mencari nafkah untuk menyambung hidup.

Dibalik niatnya yang sederhana, tersimpan jasa yang begitu besar untuk memperbaiki lingkungan. Secara tidak langsung Didi membantu mengurangi jumlah sampah yang sampai di Tempat Penampungan Akhir.

Terima kasih, Di !